Glamping, Glamour Camping Lembang

 Hi, Saya R, Si Suami
Sebenernya denger istilah glamping itu baru-baru aja, waktu temen yang asli Bandung kasih saran beberapa tempat yang kira-kira enak banget untuk liburan disana, destinasi ke bandung – lebih tepatnya lembang – pun baru kepikiran karena libur lebaran sudah hampir habis, mau dirumah aja pasti nantinya akan uring-uringan sepanjang tahun karena merasa bersalah dengan diri sendiri (ga manfaatin waktu liburan dengan baik). Mau mudik bingung mau kemana sejak Mami kami tersayang yang biasanya minta ditemenin mudik sudah meninggalkan kami akhir tahun lalu, jadilah lebaran ini menjadi libur yang random, ya, kami ngabisin waktu untuk jalan-jalan ke tempat yang ga direncanain alias dadakan, mulai dari bogor, puncak, sampai ke lembang. Capenya sama aja kaya mudik, tapi tetep seneng.
Liburan ke puncak kalo sempet mungkin akan dibahas juga karena ada beberapa kejadian yang kayanya worth to share.
“Glamping” kata teman Saya, waktu saya tanya “kira-kira kemping yang tendanya dari penginapan itu  nama tempatnya apa sih?”, dia jawab, “cari aja Mas di IG, keywordnya Glamping Lembang. Bingung banget sama istilah Glamping, kirain temennya Emping, ga taunya singkatan dari Glamour Camping. Ternyata udah banyak yang share tentang Glamping ini, termasuk artis-artis yang bikin jadi tambah hype, tapi entah kenapa saya malah baru denger dari temen Saya, haha..
Setelah buka IG ternyata ada beberapa tempat yang jadi rekomendasi untuk mencoba glamping, dan 2 yang teratas adalah Maribaya Resort dan Trizara Resort. Berhubung situasinya lebaran, harganya jadi agak tinggi apalagi pas weekend, untungnya karena kami ambil cuti tambahan, kami putuskan untuk menginap disaat harga mulai masuk akal yaitu dari hari minggu ke senin (kalau menurut orang hotel, hari minggu sudah ga masuk weekend) perbedaannya bisa sampai IDR 500.000. Karena harganya yang ga bisa dibilang murah, maka Saya melakukan riset kecil kecilan, semua foto yang ada di IG isinya pemandangan yang bagus saja, tapi di trip advisor Saya lihat ada beberapa komen kekecewaan seperti kamarnya tertutup pohon jadi ga bisa liat pemandangan yang bagus banget. Benar saja, ternyata di tempat saya menginap (Trizara Resort), harga tidak bohong. Mereka punya 2 tipe kamar untuk 2 orang, dan 2 tipe kamar untuk 4 orang, salah satunya lebih murah dan satunya lagi lebih mahal, terpaut sekitar kurang lebih IDR 400.000, walaupun bedanya lumayan jauh Saya tetap menyarankan ambil yang mahal!
best view netra 12
Perjalanan menuju ke Trizara lumayan berat, tanjakan dan turunannya lumayan ekstrim, bagi yang belum terlalu jago nyetir lebih baik minta tolong driver nemenin daripada merosot pas nanjak, bahkan dijalan kesana ada plang informasi kalau daerahnya rawan logsor, jadi kalau hujan deres disarankan untuk muter balik, ngeri banget ga sih?, selain itu parkiran camping nya ada diluar gate, seperti numpang parkir di lahan orang tapi kayanya itu lahan juga punya trizara karena dibagian ujung lapangan ada bangunan seperti menara yang diberi tulisan trizara.
Jalan masuknya pun harus melewati perkampungan penduduk sekitar. Kami sempat kaget ketika distop oleh bapak berpakaian satpam hijau, Saya pikir salah jalan karena dekat tempat kami diberhentikan ada masjid, ketika saya tanya, ternyata dia bilang untuk lewat jalan tersebut dikenakan biaya IDR 5.000 untuk perbaikan jalan. “Semoga bisa segera di hotmik pak jalannya”, katanya.
Setelah parkir dan masuk gerbang, barulah Kami tercengang dengan pemandangan yang ada, karena lokasinya yang lumayan tinggi jadi kota yang ada dibawahnya jadi pemandangan yang luar biasa. Sebenernya kalau hanya mau foto-foto disini ga perlu menginap juga bisa, karena Saya sempat lihat beberapa  orang yang datang hanya untuk foto, tapi menginap disini menjadi pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan.
Oh iya, kalau menginap disini, tidak ada TV, AC dan telepon, walaupun mereka tetap menyediakan wifi (yang ga kami pakai karena ga ngerti cara connectnya, haha). Kalau mau order makanan, bisa via whatsapp, nomornya mereka tempel di pagar. Saran Saya, kalau kesini beli air mineral dulu dibawah, sekalian mie instan siap seduh, kayanya lebih nikmat daripada pesen di resto sini. Kami sempat pesan di resto sih untuk dinner, masakannya lumayan tasty, harga makanan di kisaran IDR 40.000 – 70.000 kurang lebihnya.
Kamar mandi cukup bersih, tapi karena lembab lantainya jadi lumayan licin. Fasilitas air panas agak bikin Kami kerepotan untuk setting, tau kan kondisi dimana air panas terlalu panas waktu dinyalakan, giliran diputer sedikit jadi dingin banget, ga bisa ada diposisi yang pas. Waktu sudah nemu posisi yang pas, kondisinya hanya bertahan sebentar setelah itu air jadi super panas.
Kami sengaja tidur ga terlalu malam, karena sempat baca review kalau matahari terbit disini bagus banget, lagian disana malam ga ada apa-apa, mau “ena-ena” pun agak sulit karena suara kecil aja kedengeran ke sebelah, maklum camping, jadi antara kamar satu dan lainnya cuma dibatasi terpal. Lagian kami bawa si kecil dan ada waktu tenang mulai jam 22.00
Pagi hari Kami bangun jam 5.30, matahari sudah mulai sedikit malu-malu muncul dari balik gunung, momen tersebut sempat Saya abadikan di video, semoga bisa jadi Vlognya dalam waktu dekat. Hehe..
Ga butuh waktu lama untuk matahari naik ke atas, atau karena saking bagusnya jadi ga terasa tau-tau matahari sudah tinggi. Kami putuskan untuk sarapan pagi di resto, baru nyadar kalau di sebelahh resto ternyata ada bar yang isinya kopi dan liquor, harusnya malemnya nongkrong disitu dulu, tapi tetep ga bisa sih, malemnya dingin banget, kasian si kecil kalau diajak nongkrong diluar. Saya aja harus pake jaket dan celana panjang kalau mau lama-lama duduk di teras.
Waktu breakfast ketakutan kami terjadi, iya, disini ga ada baby chair. Gawat banget, baby kalyn yang udah 17 bulan lagi seneng-senengnya gritil, diri di kursi, lari jalan dan makan sendiri. Bener aja, sarapan pagi jadi kurang nyaman karena kerepotan jagain si anak kecil. Makanan yang disajikan cukup bervariasi, ada nasi, mie, lontong sayur, bubur ayam, roti, pastry,egg corner, sampai buah dan pudding tersedia, rasanya pun lumayan enak plus udara dingin pagi bikin betah lama-lama duduk di restonya.
 Kami check out jam 12 siang, kondisi sedang tidak ramai karena orang-orang sudah mulai masuk kerja. Kalau ditanya mau balik lagi kesini apa ngga, jawabannya mau! tapi kalau ada kesempatan bisa coba tempat lain lebih milih suasana yang baru supaya bisa Kami review lagi.

Leave a Reply